Membaca Hasil TKA dengan Kepala Dingin dan Hati Terbuka

SMAN 1 Petak Malai - Belakangan ini, ruang-ruang diskusi pendidikan ramai oleh satu topik yang sama: hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dinilai banyak pihak “anjlok” dan mengkhawatirkan. Sebagian langsung menarik kesimpulan besar bahwa pendidikan Indonesia sedang berada dalam kondisi sangat kritis, bahkan gagal. Namun benarkah satu hasil asesmen cukup kuat untuk menjadi vonis bagi seluruh wajah pendidikan kita?

Hasil TKA

TKA pada dasarnya adalah alat ukur. Ia dirancang untuk membaca capaian akademik siswa pada aspek-aspek tertentu, pada satu waktu, dengan standar tertentu pula. Seperti alat ukur lainnya, TKA memberi sinyal, bukan putusan akhir. Ia menunjukkan ada persoalan, tetapi tidak serta-merta menjelaskan seluruh sebabnya. Karena pendidikan bukan hanya soal nilai ujian, melainkan juga proses panjang yang dipengaruhi konteks sosial, ekonomi, geografis, dan kebijakan yang terus berubah.

Jika hasil TKA rendah terjadi secara luas, tentu ini tidak boleh dianggap sepele. Ia adalah lampu peringatan bahwa ada bagian dari sistem pembelajaran yang perlu dibenahi. Namun menyimpulkan bahwa pendidikan Indonesia berada di ambang kehancuran hanya dari satu instrumen evaluasi justru berisiko menyesatkan. Kita bisa terjebak pada reaksi emosional, saling menyalahkan, dan lupa membaca persoalan secara utuh.

Salah satu faktor yang jarang dibicarakan secara jujur adalah perubahan budaya asesmen yang dialami siswa dalam beberapa tahun terakhir. Sejak kehadiran Asesmen Nasional, arah evaluasi pendidikan memang bergeser. Asesmen tidak lagi difokuskan pada nilai individu atau penentuan kelulusan, melainkan pada pemetaan mutu sistem. Secara filosofis, ini adalah langkah maju. Pembelajaran tidak lagi dikejar demi angka, tetapi demi pemahaman dan proses.

Namun perubahan ini juga membawa konsekuensi yang tidak selalu disadari. Siswa menjadi terbiasa mengikuti asesmen yang tidak berdampak langsung pada nilai rapor atau nasib akademik mereka. Asesmen dipahami sebagai kegiatan reflektif, bukan arena pembuktian capaian. Dalam jangka panjang, hal ini membentuk kenyamanan baru. Bukan kenyamanan yang salah, tetapi kenyamanan yang membuat siswa kurang terlatih menghadapi asesmen bernilai tinggi.

Ketika kemudian TKA hadir sebagai tes yang kembali mengukur capaian akademik dan memiliki bobot nilai, banyak siswa mengalami semacam kejutan budaya. Bukan hanya materi yang diuji, tetapi juga kesiapan mental, ketahanan konsentrasi, strategi mengerjakan soal, dan manajemen waktu. Padahal, semua itu adalah keterampilan yang hanya terbentuk melalui kebiasaan.

Dalam konteks ini, anjloknya nilai TKA tidak selalu berarti siswa tidak mampu. Bisa jadi mereka memahami materi, tetapi tidak siap tampil dalam situasi asesmen bernilai. Ini seperti atlet yang jarang bertanding resmi latihannya ada, pemahamannya ada, tetapi performanya goyah saat berada di arena.

Asesmen Nasional tidak keliru, dan TKA pun tidak salah. Keduanya memiliki tujuan berbeda. Masalahnya muncul ketika transisi dari satu budaya asesmen ke budaya lain tidak diimbangi dengan penyesuaian yang cukup di sekolah. Pembelajaran bermakna berjalan, tetapi latihan menghadapi asesmen sumatif berskala besar nyaris hilang. Akibatnya, siswa cerdas secara konsep, tetapi rapuh secara performa ujian.

Situasi ini terasa lebih nyata di sekolah kecil dan pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai. Di daerah dengan keterbatasan akses, siswa jarang mengikuti simulasi ujian, try out, atau paparan soal standar nasional. Guru sering berfokus pada bagaimana pembelajaran tetap berjalan di tengah keterbatasan, bukan pada latihan teknis menghadapi tes bernilai. Maka ketika TKA dilaksanakan, yang diuji bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan sistem yang selama ini berjalan dengan segala keterbatasannya.

Oleh karena itu, membaca hasil TKA perlu kehati-hatian. Ia tidak boleh dijadikan alat penghakiman terhadap siswa, guru, atau sekolah. Lebih bijak jika ia diposisikan sebagai bahan refleksi bersama. Ada kebutuhan untuk menyeimbangkan kembali filosofi asesmen: pembelajaran bermakna tetap menjadi ruh utama, tetapi kesiapan menghadapi asesmen bernilai juga perlu diperkenalkan secara proporsional.

Pendidikan Indonesia saat ini mungkin belum berada dalam fase kehancuran, tetapi jelas berada dalam fase rawan dan menentukan. Data seperti TKA seharusnya tidak memicu kepanikan, melainkan mengundang percakapan yang jujur dan berimbang. Pendidikan tidak sedang gagal, tetapi sedang diuji kematangannya dalam mengelola perubahan.

Pada akhirnya, angka tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap nilai, ada cerita tentang proses belajar, keterbatasan, dan perjuangan. Tugas kita bukan sekadar membaca hasil, tetapi memahami maknanya agar pendidikan tetap berjalan ke arah yang manusiawi, adil, dan berpihak pada realitas lapangan.

Komentar