Guru Pejuang Digital: Apakah Pengganti Guru Penggerak atau Sebuah Peran Baru?

SMAN 1 Petak Malai - Di tengah derasnya arus transformasi digital pendidikan, muncul istilah baru yang mulai sering digaungkan: guru pejuang digital. Istilah ini kerap disebut-sebut sebagai “pengganti” Guru Penggerak, atau setidaknya sebagai wajah baru perjuangan guru di era teknologi. Namun, benarkah guru pejuang digital adalah program resmi yang menggantikan Guru Penggerak? Atau justru hanya istilah kultural yang lahir dari kebutuhan zaman?

Beda guru penggerak dan pejuang digital

Berbeda dengan Guru Penggerak yang merupakan program resmi Kementerian Pendidikan, istilah guru pejuang digital sejatinya bukan nama program formal yang terstruktur dan bersertifikat. Ia lebih tepat dipahami sebagai sebutan atau identitas peran bagi guru-guru yang berjuang memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sering kali dengan keterbatasan sarana dan kondisi yang tidak ideal.

Guru pejuang digital adalah mereka yang:

  • Menggunakan teknologi seadanya untuk mendukung pembelajaran,

  • Berinisiatif belajar mandiri tentang literasi digital,

  • Memanfaatkan gawai, aplikasi sederhana, atau media sosial sebagai sarana belajar,

  • Menjadi jembatan antara keterbatasan sekolah dan tuntutan zaman.

Dengan kata lain, guru pejuang digital bukanlah “ganti nama” Guru Penggerak, melainkan peran yang bisa dijalankan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Secara filosofi, ada irisan nilai antara keduanya: sama-sama mendorong perubahan, inovasi, dan keberpihakan pada murid. Namun secara struktural, keduanya berbeda.

Guru Penggerak lahir dari sistem, melalui seleksi, pelatihan, dan penugasan formal. Sementara guru pejuang digital lahir dari realitas lapangan—sering tanpa pelatihan resmi, tanpa fasilitas lengkap, bahkan tanpa pengakuan formal.

Jika Guru Penggerak adalah simbol perubahan dari atas ke bawah, maka guru pejuang digital adalah perubahan dari bawah ke atas.

Keberadaan guru pejuang digital mencerminkan satu harapan besar: pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan. Teknologi, sekecil apa pun bentuknya, menjadi alat untuk:

  • Memperluas akses belajar,

  • Menjaga keberlanjutan pembelajaran,

  • Meningkatkan literasi digital siswa,

  • Menyiapkan peserta didik menghadapi dunia global.

Harapannya, guru tidak lagi sekadar pengguna teknologi, tetapi agen literasi digital, baik bagi siswa maupun masyarakat sekitar.

Bagi sekolah seperti SMAN 1 Petak Malai, istilah guru pejuang digital terasa sangat relevan. Di wilayah pedalaman, keterbatasan sinyal, listrik, perangkat, dan akses pelatihan adalah tantangan nyata. Namun justru di situlah semangat perjuangan digital menemukan maknanya.

Guru pejuang digital di sekolah kecil bisa berperan sebagai:

  • Inisiator blended learning sederhana (modul PDF, materi via WhatsApp),

  • Penggerak literasi digital kontekstual,

  • Pendamping siswa dalam menggunakan teknologi secara bijak,

  • Penghubung sekolah dengan dunia luar melalui platform digital.

Apa yang mungkin terlihat “biasa” di kota, sering kali merupakan lompatan besar di pedalaman.

Pada akhirnya, entah disebut Guru Penggerak, guru pejuang digital, atau guru biasa di sekolah kecil, yang terpenting adalah kehadiran guru yang mau bergerak dan beradaptasi. Di masa libur ini, refleksi tentang guru pejuang digital mengingatkan kita bahwa perubahan pendidikan tidak selalu menunggu program besar kadang ia lahir dari satu guru, satu gawai, dan satu niat tulus untuk terus belajar dan di sekolah-sekolah pedalaman, perjuangan itu masih, dan akan selalu, relevan.

Komentar