MBG 2026: Tidak Hanya untuk Siswa, Tapi Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan

SMAN 1 Petak Malai - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi salah satu topik yang banyak dibicarakan di dunia pendidikan hingga awal tahun 2026 ini. Meskipun SMAN 1 Petak Malai hingga kini belum menerima manfaat langsung dari program MBG, berbagai informasi dan perkembangan terbaru tetap menjadi perhatian seluruh warga sekolah, khususnya para guru dan tenaga kependidikan.

MBG 2026

Salah satu informasi yang cukup menarik perhatian adalah kabar bahwa MBG yang selama ini dipahami hanya difokuskan untuk siswa, ternyata dalam aturan dan ketentuannya juga berlaku bagi seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan (tendik). Hal ini menimbulkan beragam respons dan pertanyaan, terutama di sekolah-sekolah yang belum sama sekali tersentuh oleh program tersebut.

Bagi guru-guru di SMAN 1 Petak Malai, informasi ini tentu memunculkan rasa ingin tahu sekaligus harapan. Jika benar MBG juga diperuntukkan bagi guru dan tendik, maka muncul pertanyaan lanjutan: apakah menu dan porsi yang diberikan akan sama dengan siswa, ataukah akan disesuaikan? Kebutuhan gizi siswa yang masih berada pada masa pertumbuhan tentu berbeda dengan guru dan tendik yang merupakan orang dewasa dengan aktivitas dan kebutuhan energi yang tidak sama. Aspek ini menjadi penting agar tujuan program benar-benar tercapai, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.

Terlepas dari sasaran penerimanya, program MBG memang layak untuk terus dievaluasi dan dikaji secara sungguh-sungguh. Evaluasi tidak hanya pada sisi menu dan kualitas gizi, tetapi juga pada sistem dan mekanisme penyalurannya. Hingga saat ini, masih banyak sekolah dan siswa di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil, yang belum merasakan manfaat program MBG, sementara anggaran yang dialokasikan untuk program ini tergolong sangat besar.

Tidak sedikit pihak yang mulai mengusulkan alternatif mekanisme penyaluran, misalnya dalam bentuk dana yang diserahkan langsung ke sekolah, atau melalui skema lain yang lebih fleksibel dan kontekstual sesuai kondisi daerah. Dengan mekanisme seperti itu, sekolah dinilai lebih mampu menyesuaikan menu, bahan pangan lokal, serta kebutuhan nyata warga sekolah.

Di tengah kondisi tersebut, SMAN 1 Petak Malai tetap berupaya menghadirkan semangat makan bergizi secara mandiri. Melalui kegiatan makan bersama secara berkala, sekolah berusaha memberikan menu sederhana namun bernilai gizi, sekaligus menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian antarwarga sekolah. Upaya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi sekolah untuk terus berikhtiar demi kesehatan dan kebersamaan.

Ke depan, besar harapan agar program MBG benar-benar tepat sasaran, adil, dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh pihak yang berhak, baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan, termasuk di sekolah-sekolah kecil dan terpencil. Pendidikan yang sehat dan berkualitas membutuhkan kebijakan yang tidak hanya besar dalam anggaran, tetapi juga bijak dalam pelaksanaan.

Komentar