Opini Pendidikan: Belajar Dari Kasus Salah Tuduh Es Gabus
Belajar dari Kasus Salah Tuduh Es Gabus: Tugas Sekolah Mencegah Lahirnya Generasi Ceroboh dan Sewenang-wenang
SMAN 1 Petak Malai - Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan seorang penjual es gabus yang diduga salah dituduh oleh oknum aparat karena produknya dianggap terbuat dari spons. Belakangan diketahui bahwa es gabus tersebut merupakan jajanan tradisional yang memang telah lama dikenal di masyarakat. Peristiwa ini memicu perdebatan luas, bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga soal cara berpikir, kehati-hatian, dan penggunaan kewenangan.
Jika ditarik lebih dalam, kasus ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia menjadi cermin bahwa tindakan ceroboh, prasangka, dan sikap sewenang-wenang sering kali berakar dari kegagalan membangun nalar kritis dan karakter sejak dini. Dan di sinilah peran sekolah menjadi sangat penting.
Sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga ruang pembentukan cara berpikir dan bersikap. Generasi muda perlu dilatih untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, apalagi ketika informasi yang dimiliki belum lengkap. Asas praduga tak bersalah, kehati-hatian dalam bertindak, serta empati terhadap sesama seharusnya menjadi nilai hidup, bukan sekadar materi hafalan dalam pelajaran PPKn.
Kasus es gabus juga menunjukkan bahaya dari ketidaktahuan yang tidak disadari. Di beberapa wilayah, termasuk daerah pedalaman, es gabus atau jajanan serupa mungkin tidak populer karena keterbatasan listrik dan teknologi pendingin. Ketidaktahuan semacam ini sangat mungkin terjadi pada siapa pun. Namun, sekolah perlu menanamkan satu prinsip penting kepada peserta didik: tidak tahu bukanlah kesalahan, tetapi menuduh tanpa tahu adalah persoalan serius.
Melalui pembelajaran kontekstual, diskusi kasus nyata, dan projek berbasis kehidupan masyarakat sekitar, siswa dapat dibiasakan untuk memahami keragaman praktik hidup. Mereka belajar bahwa sesuatu yang asing bagi dirinya belum tentu salah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan Delapan Dimensi Profil Lulusan yang menekankan kearifan lokal, empati sosial, dan bernalar kritis.
Selain itu, sekolah juga perlu membiasakan budaya verifikasi. Siswa diajak membedakan antara fakta, asumsi, dan opini. Mereka dilatih untuk bertanya, mendengar, dan menunda penilaian sampai informasi cukup. Kebiasaan sederhana ini kelak akan sangat menentukan ketika mereka berada di posisi yang memiliki kewenangan dan kekuasaan.
Akhirnya, kasus viral ini hendaknya menjadi bahan refleksi bersama. Sekolah memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa generasi yang dilahirkan bukan hanya tegas, tetapi juga bijaksana; bukan hanya berani bertindak, tetapi juga cermat dan manusiawi. Dengan pendidikan yang menumbuhkan nalar, empati, dan kehati-hatian, sekolah turut mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

Komentar
Posting Komentar