Pagar Sekolah dari Batang Singkong : Menata Lingkungan Sekolah dengan Kreativitas dan Kepedulian

SMAN 1 Petak Malai - Senin, 5 Januari 2026 menjadi hari pertama aktivitas sekolah setelah libur panjang semester ganjil dan pergantian tahun. Meski demikian, kehadiran siswa masih belum maksimal. Berbagai kendala, mulai dari jarak tempuh, kondisi cuaca, hingga keterbatasan transportasi membuat sebagian besar siswa belum dapat hadir ke sekolah. Menyikapi kondisi tersebut, pihak sekolah memutuskan untuk memfokuskan kegiatan pada penataan dan pengelolaan lingkungan sekolah.

Pagar sekolah dari batang singkong

Salah satu kegiatan utama yang dilakukan adalah pembuatan pagar di sekitar selasar kelas. Pagar ini dirancang sebagai upaya mengurangi dampak dari hewan peliharaan milik warga sekitar yang kerap naik ke selasar, mengotori area sekolah, serta mengganggu kenyamanan dan kebersihan lingkungan belajar. Lingkungan sekolah yang bersih dan tertata rapi diyakini memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan dan semangat belajar warga sekolah.

Dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki, sekolah memilih pendekatan kreatif dan kontekstual. Bahan pagar tidak dibeli dari luar, melainkan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan, yaitu batang singkong atau ubi kayu. Pilihan ini tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga sejalan dengan semangat pemanfaatan potensi lokal dan pembelajaran berbasis lingkungan.

Siswa yang hadir pada hari itu bahu membahu mengerjakan proses pembuatan pagar. Mereka mulai dari mencari bambu dan kayu untuk penopang, menyeleksi bahan yang layak, hingga menata dan merapikannya agar pagar terlihat lebih rapi dan fungsional. Pagar dirancang dengan ketinggian sekitar satu meter, cukup untuk membatasi area tanpa menghalangi pandangan.

Dari hampir 200 batang bambu yang berhasil dikumpulkan, hanya sekitar separuhnya yang dapat digunakan. Sebagian bambu dinilai kurang lurus atau terlalu bengkok sehingga tidak layak dijadikan penopang pagar. Kondisi ini membuat pembangunan pagar belum dapat diselesaikan sepenuhnya dan direncanakan akan dilanjutkan pada waktu berikutnya dengan persiapan bahan yang lebih matang.

Di balik kesederhanaan kegiatan ini, tersimpan nilai pembelajaran yang sangat penting bagi siswa. Mereka belajar tentang kerja sama, ketekunan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga lingkungan bersama. Pemilihan ide pagar dari batang singkong juga melatih kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah dengan memanfaatkan apa yang ada, bukan bergantung pada fasilitas yang mahal.

Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Melalui aktivitas nyata di lingkungan sekolah, siswa memperoleh pengalaman hidup yang membentuk karakter, kepedulian sosial, dan rasa memiliki terhadap sekolah sebagai ruang belajar bersama.

Komentar