Refleksi Dunia Pendidikan dari Kasus Kekerasan Siswa terhadap Guru di Jambi
SMAN 1 Petak Malai - Kasus pemukulan siswa terhadap guru yang terjadi di Jambi dan berawal dari ucapan guru yang dianggap kasar telah mengguncang dunia pendidikan. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan, tetapi juga menjadi cermin besar bagi seluruh ekosistem pendidikan di Indonesia, termasuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai.
Penting untuk ditegaskan sejak awal bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, terlebih terhadap guru. Namun, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa konflik di sekolah sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari persoalan komunikasi, emosi, dan relasi yang tidak tertangani dengan baik.
Guru memiliki posisi istimewa dalam kehidupan siswa. Setiap kata, nada bicara, dan ekspresi guru dapat meninggalkan kesan yang dalam. Ucapan yang dimaksudkan sebagai teguran, apabila disampaikan tanpa empati, berpotensi ditafsirkan sebagai penghinaan atau perendahan martabat.
Di usia remaja, siswa berada pada fase pencarian jati diri dengan emosi yang belum sepenuhnya stabil. Oleh karena itu, bahasa yang mendidik, beretika, dan berempati menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran. Tegas bukan berarti keras, dan mendisiplinkan tidak harus dengan cara melukai perasaan.
Tindakan kekerasan siswa terhadap guru merupakan pelanggaran serius, namun sekaligus menjadi indikator adanya persoalan emosional yang lebih dalam. Sekolah perlu membaca kekerasan bukan hanya sebagai pelanggaran tata tertib, tetapi juga sebagai sinyal bahwa ada siswa yang gagal mengelola emosi dan tidak menemukan saluran penyelesaian masalah yang sehat.
Dalam konteks ini, peran guru BK, wali kelas, dan budaya dialog di sekolah menjadi sangat penting. Sekolah idealnya hadir sebagai ruang aman bagi siswa untuk belajar tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara emosional dan sosial.
Kasus ini juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup berhenti pada slogan, poster, atau dokumen kurikulum. Nilai-nilai seperti saling menghormati, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan konflik secara damai harus dihidupkan dalam keseharian sekolah.
Guru, sebagai teladan utama, memegang peran sentral. Keteladanan dalam bersikap, berbicara, dan mengambil keputusan akan jauh lebih membekas dibandingkan nasihat yang disampaikan secara verbal semata.
Bagi sekolah di wilayah pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai, relasi guru dan siswa umumnya lebih dekat dan bersifat kekeluargaan. Kondisi ini sejatinya merupakan kekuatan besar jika dikelola dengan bijak. Komunikasi yang hangat, saling menghargai, dan berbasis kearifan lokal dapat menjadi benteng utama pencegahan konflik.
Namun, kedekatan tersebut juga menuntut kehati-hatian. Karena relasi yang personal, ucapan yang kurang tepat bisa berdampak lebih dalam. Maka, kesadaran bersama untuk menjaga adab, bahasa, dan emosi menjadi kebutuhan mendesak.
Kasus di Jambi seharusnya tidak menjadi bahan saling menyalahkan, melainkan momentum refleksi bersama. Sekolah perlu memperkuat budaya dialog, pendekatan restoratif, serta pendidikan karakter yang nyata dan berkelanjutan.
Sebagaimana semangat Kurikulum Merdeka dan Delapan Dimsensi Profil Lulusan, sekolah diharapkan mampu membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, bernalar kritis, serta mampu mengelola emosi dan konflik secara beradab.
Sekolah adalah ruang memanusiakan manusia. Ketika kata-kata kehilangan empati dan emosi tak terkelola, pendidikan kehilangan rohnya. Maka, tugas kita bersama guru, siswa, dan seluruh warga sekolah adalah menjaga agar ruang belajar tetap aman, manusiawi, dan bermartabat.

Komentar
Posting Komentar