Research Club : Antara Kebijakan, Harapan, dan Realitas Sekolah Pedalaman

SMAN 1 Petak Malai - Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah melalui surat edaran tentang pembentukan Research Club menginstruksikan seluruh satuan pendidikan jenjang SMA/SMK/SKH untuk membentuk wadah kegiatan riset siswa di sekolah masing-masing.  Kebijakan ini tentu patut diapresiasi sebagai langkah strategis untuk menumbuhkan budaya berpikir ilmiah, kritis, dan berbasis data sejak bangku sekolah menengah.

Research Club

Namun, di balik semangat tersebut, muncul sejumlah pertanyaan mendasar dari satuan pendidikan, terutama sekolah-sekolah di wilayah pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai:

Apa sebenarnya Research Club itu? Apakah sama dengan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) yang populer pada era 1990–2000-an? Dan bagaimana kebijakan ini dipahami secara adil dalam konteks sekolah dengan keterbatasan sumber daya?

Apa Itu Research Club?

Secara konseptual, Research Club adalah wadah pembinaan siswa untuk melakukan kegiatan penelitian secara terstruktur, mulai dari pengenalan masalah, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan laporan atau karya ilmiah. Research Club tidak semata mengejar lomba, tetapi bertujuan membangun budaya riset dan literasi ilmiah di sekolah.

Dalam semangat Kurikulum Merdeka, Research Club sejalan dengan pendekatan deep learning, project based learning, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. Siswa tidak hanya “menghafal”, tetapi diajak memahami realitas di sekitarnya melalui penelitian sederhana yang kontekstual.

Sama Kah dengan KIR?

Bagi guru-guru senior, istilah ini mengingatkan pada KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) yang cukup berjaya pada era 90-an hingga awal 2000-an. Secara ruh dan tujuan, Research Club dan KIR memiliki irisan yang sangat kuat: sama-sama menumbuhkan minat riset, berpikir ilmiah, dan kreativitas siswa.

Perbedaannya terletak pada pendekatan. KIR pada masa lalu sering berorientasi pada lomba karya ilmiah, sementara Research Club saat ini lebih ditekankan sebagai ekosistem belajar yang berkelanjutan, tidak selalu berujung kompetisi, dan lebih kontekstual dengan lingkungan siswa.

Dengan kata lain, Research Club dapat dipahami sebagai versi adaptif KIR di era Kurikulum Merdeka.

Tantangan Sekolah Pedalaman

Bagi sekolah pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai, kebijakan ini perlu dipahami secara proporsional dan berkeadilan. Tantangan nyata yang dihadapi antara lain:

  • Keterbatasan akses internet dan referensi ilmiah

  • Jumlah guru yang terbatas dengan beban mengajar tinggi

  • Sarana laboratorium dan pendukung riset yang minim

  • Jumlah siswa yang tidak besar, bahkan cenderung fluktuatif

Jika Research Club dipaksakan dengan standar sekolah perkotaan, maka kebijakan yang baik justru berpotensi menjadi beban administratif baru.

SMAN 1 Petak Malai memandang kebijakan pembentukan Research Club sebagai peluang, bukan sekadar kewajiban administratif. Namun, peluang ini harus diolah dengan pendekatan lokal dan realistis.

Research Club di sekolah pedalaman tidak harus dimulai dari penelitian laboratorium yang kompleks. Justru, kekuatan sekolah pedalaman terletak pada konteks lokal: hutan, sungai, budaya, kebiasaan masyarakat, pangan lokal, hingga isu sosial di sekitar siswa.

Penelitian sederhana seperti:

  • kebiasaan konsumsi pangan lokal,

  • pengelolaan sampah desa,

  • cerita rakyat dan kearifan lokal,

  • keanekaragaman hayati sekitar sekolah,

adalah bentuk riset yang valid, bermakna, dan relevan bagi siswa.

Research Club seharusnya tidak dipahami sebagai “klub elite” atau beban baru bagi sekolah. Ia adalah ruang belajar, ruang bertanya, dan ruang berpikir kritis. Bagi sekolah pedalaman, keberhasilan Research Club tidak diukur dari banyaknya piala, melainkan dari keberanian siswa mengamati lingkungannya dan menuliskannya dengan jujur.

Dengan dukungan kebijakan yang fleksibel, pendampingan yang manusiawi, dan kepercayaan pada potensi lokal, Research Club justru bisa menjadi sarana untuk membuktikan bahwa sekolah pedalaman juga mampu melahirkan peneliti masa depan, dengan caranya sendiri.

Belajar di Desa, Berkarya untuk Dunia.

Komentar