Ketika Pendidikan Harus Menjadi Ruang Aman: Belajar dari Tragedi dan Menguatkan Komitmen Melindungi Siswa
SMAN 1 Petak Malai - Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah diduga tidak mampu membeli buku dan pena untuk kebutuhan sekolah. Peristiwa memilukan ini menjadi perhatian nasional sekaligus pengingat bahwa akses pendidikan bukan hanya tentang tersedianya sekolah, tetapi juga tentang terpenuhinya kebutuhan dasar belajar setiap anak.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian tersebut dan berencana mengevaluasi Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai respons atas tragedi ini. Banyak pihak menilai peristiwa ini sebagai “alarm serius” agar semua elemen bangsa lebih peka terhadap persoalan sosial yang dapat menghambat hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
Lebih menyayat hati lagi, siswa tersebut diduga tidak dapat membeli perlengkapan sekolah yang nilainya kurang dari Rp10.000. Fakta ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi, sekecil apa pun terlihat, dapat berdampak besar pada kondisi psikologis anak apabila tidak segera terdeteksi dan ditangani.
Sebagai bagian dari komunitas pendidikan, keluarga besar SMAN 1 Petak Malai menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi ini. Tidak ada satu pun anak yang seharusnya merasa putus asa hanya karena keterbatasan ekonomi. Sekolah harus menjadi tempat yang menghadirkan harapan, bukan tekanan.
Meski berada di wilayah pedalaman, jauh sebelum kasus ini terjadi, SMAN 1 Petak Malai telah berkomitmen untuk memastikan potensi-potensi serupa tidak terjadi di lingkungan sekolah. Salah satu fondasi utama adalah dukungan program pemerintah daerah berupa sekolah gratis. Sejak berdiri, SMAN 1 Petak Malai tidak pernah menarik iuran BPP atau SPP. Kebijakan ini diyakini mampu mengurangi beban psikologis siswa terkait biaya pendidikan yang di beberapa tempat masih menjadi kekhawatiran besar bagi keluarga.
Selain itu, sekolah juga menghadirkan program preventif yang berorientasi pada kesejahteraan siswa.
Program pertama adalah BASISMAN (Bantuan Siswa Mandiri), yang menyediakan peluang kerja paruh waktu bagi siswa. Program ini tidak hanya melatih kemandirian dan tanggung jawab, tetapi juga memberikan kompensasi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan pribadi, mulai dari uang jajan hingga perlengkapan sekolah, bahkan dalam beberapa kasus turut membantu ekonomi keluarga.
Program kedua adalah Literasi HASUPA (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara), sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang sekaligus mengajarkan literasi finansial. Dalam program ini, setiap peserta baik dari jenjang SD, SMP, maupun SMA mendapatkan kompensasi uang hasupa senilai 10.000,- sebagai bentuk apresiasi sekaligus belajar mengelola keuangan secara sehat. Edukasi ini penting agar siswa memahami cara merencanakan kebutuhan dan tidak merasa sendirian ketika menghadapi keterbatasan.
Harapannya, melalui program-program tersebut, potensi adanya siswa yang tidak dapat membeli perlengkapan sekolah atau bahkan sekadar tidak memiliki uang jajan dapat diminimalkan sedini mungkin. Namun demikian, sekolah juga menyadari bahwa perlindungan terhadap anak tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang benar-benar ramah anak.
Tragedi di NTT hendaknya menjadi refleksi bersama. Pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga upaya menjaga martabat dan masa depan generasi muda. Setiap anak berhak merasa cukup, didengar, dan didukung.
SMAN 1 Petak Malai percaya bahwa langkah-langkah kecil mulai dari kebijakan sekolah gratis hingga program pemberdayaan siswa dapat menjadi benteng agar tidak ada lagi anak yang merasa kehilangan harapan karena alasan ekonomi.
Mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat untuk lebih peka terhadap kondisi di sekitar kita. Sebab terkadang, perhatian sederhana dan kepedulian yang tulus dapat menyelamatkan masa depan seorang anak

Komentar
Posting Komentar