HASUPA (19) : Belajar dari Sampah, Bermain dengan Makna di Taman Baca Baraoi

Sabtu sore, 25 April 2026, suasana di Taman Baca Baraoi terasa lebih hidup dari biasanya. Bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, anak-anak sudah mulai berdatangan. Wajah-wajah ceria, langkah-langkah kecil yang bersemangat, serta tangan-tangan mungil yang membawa botol dan gelas plastik bekas menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.

Hasupa 25 April 2026

Hari itu, kegiatan literasi HASUPA (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara) hasil kolaborasi SMAN 1 Petak Malai dan Taman Baca Baraoi kembali menghadirkan sesuatu yang berbeda. Jika sebelumnya setiap anak mendapatkan “uang HASUPA” sebesar Rp10.000 hanya dengan hadir, kini program tersebut mengalami penyesuaian. Sejak dua minggu terakhir, poin HASUPA diperoleh dengan cara menukarkan sampah plastik.

Perubahan ini bukan sekadar teknis, melainkan bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih dalam tentang nilai usaha dan kepedulian lingkungan. Anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar bahwa sesuatu yang bernilai bisa diperoleh melalui proses. Sampah plastik yang mereka bawa bukan lagi barang tak berguna, melainkan “aset” yang bisa ditukar dengan poin.

Kegiatan Literasi Hasupa

Sembari menunggu teman-teman lainnya datang, sebagian anak tampak asyik membaca buku di lapak baca sederhana yang telah disiapkan. Di sudut lain, beberapa anak menikmati buah hutan Baccaurea lanceolata, atau yang dikenal dengan sebutan lampesu. Buah tersebut dibawa langsung dari hutan oleh Muhammad Jumani, penanggung jawab kegiatan sekaligus pendiri Taman Baca Baraoi. Rasa asam segar lampesu seolah menambah keakraban sore itu.

eksperimen masak telur dadar mini

Kegiatan semakin semarak ketika seluruh peserta hampir lengkap. Tak hanya membaca, sesi yang paling dinantikan pun dimulai: eksperimen memasak telur menggunakan kaleng aluminium bekas. Kaleng-kaleng tersebut telah dimodifikasi menjadi kompor mini, dengan sumber panas dari lilin. Bagian cekungan kaleng berfungsi sebagai wajan sederhana.

Dengan penuh rasa penasaran, anak-anak menyaksikan demonstrasi dari para relawan: Yulia, Wulandari, dan Bella. Sedikit minyak dituangkan, lalu adonan telur yang telah disiapkan di dalam botol dicurahkan perlahan. Tak lama kemudian, aroma telur dadar mini mulai tercium, mengundang decak kagum dan senyum lebar dari para peserta.

Setelah demonstrasi, anak-anak diberi kesempatan untuk mencoba sendiri. Dengan arahan dan pengawasan relawan, mereka bergantian mempraktikkan proses tersebut. Tangan-tangan kecil itu tampak hati-hati, namun penuh semangat. Beberapa bahkan meminta izin untuk membawa pulang kaleng modifikasi tersebut, ingin mencoba kembali di rumah bersama orang tua mereka.

“Pak, boleh nggak nanti saya minta kalengnya untuk dibawa pulang, mau coba di rumah,” pinta Wina, seorang peserta berusia sekitar 7 tahun, kepada Muhammad Jumani. Permintaan sederhana itu menjadi gambaran nyata bahwa pengalaman hari itu meninggalkan kesan mendalam.

Bagi para relawan, momen ini juga menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
“Seru sekali hari ini, mengingatkan waktu kecil main masak-masakan, dan senang sekali melihat anak-anak begitu antusias,” ungkap Yulia, siswi kelas XI SMAN 1 Petak Malai yang turut mendampingi kegiatan.

Di akhir sesi, antrean panjang terbentuk. Anak-anak tak sabar mencicipi hasil karya mereka sendiri telur dadar mini yang sederhana, namun terasa istimewa karena dibuat dengan usaha dan pengalaman langsung.

Kegiatan HASUPA kali ini menjadi yang paling ramai, dengan kehadiran lebih dari 40 peserta. Jumlah tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri dalam hal pendampingan. Namun, kehadiran para relawan seperti Kak Mario dan Kak Kristi turut membantu menjaga kelancaran kegiatan. Dengan kerja sama yang solid, seluruh rangkaian acara berlangsung tertib dan penuh keceriaan.

Di balik tawa dan keseruan sore itu, terselip makna yang lebih dalam. HASUPA bukan sekadar kegiatan membaca atau bermain. Ia adalah ruang belajar yang hidup tempat anak-anak memahami bahwa literasi tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kehidupan nyata: dengan lingkungan, dengan keterampilan, dan dengan nilai-nilai usaha.

Refleksi sederhana dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan belajar yang kontekstual dan menyenangkan mampu menumbuhkan antusiasme yang luar biasa. Ketika anak-anak diberi pengalaman langsung mengumpulkan sampah, menukarnya dengan poin, hingga mengolah barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan.

Ke depan, program HASUPA akan terus dikembangkan dengan berfokus pada empat pilar utama: literasi baca tulis, lingkungan, finansial, dan keterampilan (life skill). Berbagai aktivitas praktik seperti pembuatan kerajinan dari sampah akan semakin diperbanyak, sekaligus memanfaatkan kembali material yang telah dikumpulkan oleh anak-anak.

Komentar