HASUPA (20) Hari Pendidikan Nasional 2026: Merawat Asa dari Pedalaman
SMAN 1 Petak Malai — Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 14.30 WIB, mentari masih terasa menyengat di Desa Tumbang Baraoi. Namun panas siang itu tak menyurutkan langkah anak-anak pedalaman yang mulai berdatangan ke lokasi kegiatan literasi Hasupa (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Taman Baca Baraoi dan SMAN 1 Petak Malai.
Pemandangan yang tersaji siang itu tidak biasa. Beberapa anak terlihat memikul karung, sementara yang lain menenteng kantong plastik besar. Isinya bukan perlengkapan sekolah, melainkan botol air mineral kosong dan gelas minuman bekas yang mereka kumpulkan selama hampir sepekan. Sejak program literasi finansial diintegrasikan dengan literasi lingkungan, anak-anak semakin antusias mengumpulkan sampah bernilai guna untuk ditukar di bank sampah Hasupa.
Dalam sistem yang sederhana namun bermakna, setiap sampah yang disetorkan akan dikonversi menjadi poin Hasupa, dengan nilai satu poin setara satu rupiah. Poin tersebut dapat digunakan untuk berbelanja di koperasi Hasupa atau ditabung hingga mencapai nilai tertentu. Dengan nominal sekitar Rp50.000, anak-anak sudah bisa menukarkannya dengan tas sekolah, pakaian, atau barang impian lainnya.
Hari itu, para relawan sengaja tidak memberitahukan adanya agenda khusus kepada peserta. Kejutan kecil disiapkan untuk menambah semangat anak-anak dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional. Empat jenis lomba edukatif pun digelar, yaitu kuis membaca nyaring, memasukkan pensil ke dalam botol, tiup gelas, dan lomba zigzag balon. Kegiatan berlangsung meriah, penuh tawa, sekaligus menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
Namun di balik keceriaan tersebut, terselip refleksi mendalam tentang wajah pendidikan di pedalaman. Berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, untuk mengurangi kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman. Akses internet mulai masuk, bantuan pendidikan terus digulirkan, dan berbagai program literasi diperkenalkan. Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan itu masih nyata.
Bagi anak-anak di desa seperti Tumbang Baraoi, kegiatan literasi seperti Hasupa adalah sebuah “kemewahan” yang tidak bisa mereka nikmati setiap hari. Setiap kegiatan membutuhkan biaya sekitar Rp250.000 hingga Rp300.000. Jika dilaksanakan secara rutin empat kali dalam sebulan, maka setidaknya diperlukan dana sekitar satu juta rupiah setiap bulan, yang hingga kini masih bersumber dari dana mandiri penanggung jawab dan relawan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang kehadiran, kepedulian, dan keberlanjutan. Di tengah keterbatasan, anak-anak tetap menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Mereka hadir bukan hanya untuk bermain, tetapi juga untuk merasakan bahwa dunia belajar adalah ruang yang menyenangkan dan layak mereka miliki.
Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi titik refleksi bagi semua pihak. Bahwa perjuangan menghadirkan pendidikan yang merata masih panjang. Namun di sisi lain, harapan tetap tumbuh dari hal-hal sederhana dari langkah kecil anak-anak yang memikul karung berisi sampah, dari tawa mereka saat mengikuti lomba, dan dari tangan-tangan relawan yang setia mendampingi.
Bagi pengurus dan relawan Hasupa, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah upaya menjaga agar anak-anak tetap dekat dengan dunia belajar, apa pun kondisinya. Mereka percaya, anak-anak hebat ini akan tetap tumbuh dan berkembang, selama ada yang mau hadir, menemani, dan peduli.
Sebagai bagian dari komitmen literasi sekolah, kegiatan ini juga sejalan dengan berbagai program yang telah dijalankan oleh SMAN 1 Petak Malai. Untuk membaca kegiatan lain yang relevan, pembaca dapat mengunjungi artikel terkait pada blog sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Belajar di desa, berkarya untuk dunia.



Komentar
Posting Komentar