HASUPA : Antusias Literasi Tumbuh di Jantung Borneo (10)
Petak Malai - Jum’at, 23 Januari 2026, kegiatan literasi HASUPA (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara) kembali digelar sebagai bagian dari program inovasi literasi sekolah berbasis sosial kemasyarakatan. Kali ini, HASUPA hadir di tempat yang baru, yakni di ruang terbuka yang tidak jauh dari Taman Baca Baraoi, menghadirkan suasana belajar yang lebih santai, inklusif, dan kondusif.
Menariknya, kegiatan ini mengalami sedikit perubahan jadwal. Sesuai rencana awal, HASUPA dijadwalkan berlangsung setiap Sabtu. Namun, karena satu dan lain hal, pelaksanaan kegiatan untuk minggu ini dimajukan menjadi Jum’at, 23 Januari 2026, atau sehari lebih awal. Pergeseran jadwal ini bahkan disampaikan secara cukup mendadak melalui media sosial Facebook, hanya beberapa jam sebelum kegiatan dimulai, yang biasanya sekitar pukul 15.00 WIB.
Awalnya, tim HASUPA sempat khawatir perubahan jadwal yang mendadak tersebut akan berdampak pada jumlah peserta. Namun kekhawatiran itu justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Puluhan peserta hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias, bahkan tercatat sebagai salah satu tingkat kehadiran tertinggi sejak HASUPA pertama kali diinisiasi. Hal ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di tengah masyarakat, khususnya anak-anak, terus tumbuh dan menguat.
Kegiatan HASUPA kali ini diisi dengan beragam aktivitas literasi yang menarik dan edukatif. Agenda diawali dengan lapak baca, di mana anak-anak bebas memilih dan membaca buku sesuai minat mereka. Selanjutnya, dilakukan kegiatan membaca nyaring yang dilanjutkan dengan latihan menceritakan kembali isi buku. Beberapa perwakilan anak tampil ke depan untuk menyampaikan kembali cerita yang telah mereka baca, melatih keberanian, pemahaman bacaan, sekaligus kemampuan berbicara di depan umum.
Tak hanya membaca, kegiatan literasi juga dipadukan dengan aktivitas praktik kreatif. Anak-anak diajak membuat trompet sederhana dari balon dan pipa. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam empat kelompok, masing-masing bekerja sama menyelesaikan satu trompet dari bahan yang telah disediakan oleh tim HASUPA. Aktivitas ini melatih kerja sama, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah secara bersama-sama.
Sebagaimana tradisi dalam setiap kegiatan HASUPA yang mulai diinisasi beberapa pekan terakhir, sesi penutup diisi dengan edukasi literasi finansial. Setiap anak memperoleh Rp10.000 uang HASUPA, serta tambahan Rp2.000 bagi peserta yang berani tampil menceritakan kembali buku yang dibaca. Uang HASUPA ini dapat digunakan untuk berbelanja atau jajan di Koperasi HASUPA, maupun ditabung sebagian sebagai latihan mengelola keuangan sejak dini.
Melalui kegiatan ini, HASUPA kembali menegaskan perannya sebagai ruang belajar alternatif yang menyenangkan, membumi, dan berdampak nyata bagi tumbuhnya budaya literasi di lingkungan masyarakat.

Komentar
Posting Komentar