HASUPA Hadirkan Literasi Finansial Sejak Dini di Lokasi Baru Taman Baca Baraoi (9)

Petak Malai, Sabtu 17 Januari 2026 — Kegiatan literasi HASUPA (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara) kembali digelar melalui kolaborasi antara SMAN 1 Petak Malai dan Taman Baca Baraoi. Namun, pelaksanaan kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak hanya karena lokasi kegiatan yang baru, tetapi juga karena ragam literasi yang semakin kaya dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari peserta.

Praktik Baik Inovasi Literasi di pedalaman

Sejak sore hari, antusiasme anak-anak sudah tampak jelas. Meski harus menempuh jarak hampir 1 kilometer dengan berjalan kaki menuju lokasi kegiatan, semangat mereka tidak surut. Justru perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita dan pengalaman berharga yang memperkuat nilai kebersamaan, ketangguhan, serta kecintaan terhadap kegiatan literasi.

Praktik Literasi Finansial

Seperti pelaksanaan sebelumnya, kegiatan HASUPA tetap diawali dengan gelar lapak baca yang menghadirkan beragam bacaan anak. Suasana menjadi semakin hidup saat sesi membaca nyaring dilakukan bersama-sama. Anak-anak tampak aktif menyimak, menanggapi, dan berani mengungkapkan pendapat mereka. Literasi tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan sebagai aktivitas yang menyenangkan dan membebaskan.

Menariknya, pada kegiatan kali ini HASUPA mulai menghadirkan literasi finansial sebagai penguatan pembelajaran. Anak-anak diperkenalkan pada konsep dasar mengelola keuangan sejak dini, sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka namun sering luput dari pembahasan formal. Selain itu, peserta juga mendapatkan materi pengenalan sampah dan bahaya sampah, terutama sampah nonorganik, sebagai bagian dari literasi lingkungan.

Puncak kegiatan menjadi momen yang paling ditunggu. Setiap peserta mendapatkan “uang HASUPA” sebesar Rp10.000. Uang tersebut tidak langsung diarahkan untuk tujuan tertentu, melainkan diserahkan sepenuhnya kepada peserta untuk dikelola. Mereka bebas memilih: apakah akan dibelanjakan, ditabung, atau menggunakan kombinasi keduanya. Dalam proses itu, pendamping memberikan edukasi sederhana tentang perencanaan, prioritas kebutuhan, dan tanggung jawab terhadap keputusan finansial yang diambil.

Melalui praktik langsung ini, anak-anak belajar bahwa uang bukan sekadar alat untuk membeli, tetapi juga amanah yang perlu dikelola dengan bijak. Nilai literasi finansial ditanamkan secara alami, kontekstual, dan tanpa paksaan.

Kegiatan HASUPA hari itu menegaskan bahwa literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan. Dari langkah kaki yang menempuh jarak jauh, dari halaman buku yang dibuka bersama, hingga lembar uang yang dikelola dengan kesadaran. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya: tumbuh pelan-pelan, membumi, dan meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.

Komentar