Pendidikan Hanya Bisa Dilakukan oleh Orang Baik

Dalam sebuah kesempatan, Prof. Dr. H. Dedi Mulyasana, M.Pd pernah menyampaikan bahwa pendidikan itu hanya bisa dilakukan oleh orang baik, yang tahu ilmu tentang kebaikan, dan memiliki spirit untuk menjadi yang terbaik. Kalimat ini sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam terutama bagi kita yang mengabdi sebagai pendidik di daerah pedalaman seperti SMAN 1 Petak Malai.

Pendidikan di Pedalaman

Pernyataan tersebut seolah mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses administratif, bukan pula hanya rutinitas menyampaikan materi sesuai jadwal. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Dan untuk membentuk manusia, dibutuhkan pribadi yang terlebih dahulu berusaha menjadi manusia yang baik.

1. Pendidikan Dilakukan oleh Orang Baik

Yang dimaksud “orang baik” bukanlah manusia yang sempurna. Tidak ada guru yang tanpa kekurangan. Namun, orang baik adalah mereka yang memiliki niat tulus, empati, dan kesadaran bahwa setiap siswa adalah amanah.

Di sekolah pedalaman, tantangan tidak sedikit: keterbatasan sarana, akses internet yang terbatas, kondisi ekonomi siswa, hingga jarak tempuh yang jauh. Dalam situasi seperti ini, karakter guru justru menjadi faktor penentu. Siswa mungkin lupa rumus matematika yang diajarkan, tetapi mereka tidak akan lupa guru yang sabar mendengarkan, yang menghargai, dan yang memperlakukan mereka dengan penuh kasih.

Kebaikan guru tercermin dalam hal-hal kecil: menyapa siswa dengan senyum, memberi motivasi ketika mereka mulai kehilangan arah, atau bersedia mendampingi mereka lebih lama dari sekadar jam pelajaran.

2. Mengetahui Ilmu tentang Kebaikan

Menjadi baik saja tidak cukup. Seorang pendidik juga harus memahami ilmu tentang kebaikan. Artinya, guru perlu terus belajar—baik dalam aspek pedagogik, psikologi pendidikan, maupun pengembangan karakter.

Ilmu tentang kebaikan berarti memahami bagaimana cara mendidik dengan pendekatan yang membangun, bukan merendahkan. Memahami bahwa disiplin tidak harus identik dengan hukuman keras, dan bahwa motivasi sering kali lebih efektif daripada ancaman.

Di era Kurikulum Merdeka, pendekatan pembelajaran berbasis projek, refleksi, dan penguatan karakter menjadi semakin penting. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber informasi, tetapi fasilitator pertumbuhan. Di sinilah ilmu tentang kebaikan bekerja: bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri siswa, bagaimana membimbing tanpa mematikan kreativitas, dan bagaimana menanamkan nilai tanpa menggurui.

Bagi guru di pedalaman, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru di era digital ini, akses ilmu semakin terbuka. Webinar, pelatihan daring, komunitas guru, hingga diskusi sederhana antar rekan sejawat bisa menjadi ruang pengembangan diri.

3. Memiliki Spirit untuk Menjadi yang Terbaik

Bagian ketiga inilah yang sering menjadi tantangan terbesar: spirit untuk menjadi yang terbaik.

Tidak sedikit guru di daerah terpencil yang secara tidak sadar menurunkan standar diri. Ada perasaan bahwa karena berada jauh dari kota, maka wajar jika kualitasnya “biasa saja”. Ada anggapan bahwa pendidik di kota pasti lebih maju, lebih hebat, lebih kompeten.

Padahal, kualitas seorang guru tidak ditentukan oleh lokasi geografis, melainkan oleh semangat dan komitmennya. Banyak kisah membuktikan bahwa sekolah di pedalaman justru mampu melahirkan inovasi luar biasa karena gurunya memiliki daya juang tinggi.

Menjadi yang terbaik bukan berarti harus mengalahkan sekolah di kota. Menjadi yang terbaik berarti berusaha maksimal dengan kondisi yang ada. Guru terbaik adalah guru yang hari ini lebih baik dari dirinya yang kemarin.

Di sekolah pedalaman, spirit ini bisa diwujudkan dalam bentuk nyata:

  • Mengelola pembelajaran kreatif meski dengan sarana sederhana.

  • Membuat projek berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan siswa.

  • Menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium belajar.

  • Menguatkan literasi dan karakter sebagai ciri khas sekolah.

Justru keunikan daerah pedalaman adalah kekuatan. Alam, budaya lokal, nilai gotong royong, dan kedekatan sosial adalah modal besar yang mungkin tidak dimiliki sekolah di kota.

Menjadi guru di pedalaman bukanlah keterbatasan, melainkan kehormatan. Kita tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi membangun masa depan daerah.

Jika pendidikan hanya bisa dilakukan oleh orang baik, maka tugas pertama kita adalah terus memperbaiki diri. Jika pendidikan membutuhkan ilmu tentang kebaikan, maka tugas kedua kita adalah terus belajar. Dan jika pendidikan menuntut spirit menjadi yang terbaik, maka tugas ketiga kita adalah menjaga semangat meski dalam sunyi, meski jauh dari sorotan.

Pada akhirnya, yang menentukan kualitas pendidikan bukanlah jarak dari ibu kota, melainkan kedalaman niat dan keteguhan hati.

Karena di mana pun seorang guru berdiri di kota besar atau di pedalaman ketika ia mengajar dengan kebaikan, ilmu, dan semangat terbaiknya, di situlah pendidikan yang sesungguhnya sedang terjadi.

Komentar