Observasi Kelas Berbasis Hybrid di SMAN 1 Petak Malai

SMAN 1 Petak Malai – Kamis, 16 April 2026 menjadi momen penting bagi SMAN 1 Petak Malai dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran. Untuk pertama kalinya, Kepala Sekolah melaksanakan observasi kelas sebagai bagian dari pengelolaan kinerja guru. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, inovatif, dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Observasi kelas menggunakan aplikasi huma betang

Observasi kali ini dilakukan pada pembelajaran Fisika yang diampu oleh Eko Ardinatha, S.Pd. Ada hal yang berbeda dan menarik dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut, yakni penggunaan sistem pembelajaran berbasis hybrid dengan memanfaatkan aplikasi Huma Betang sebagai media utama.

Dalam praktiknya, peserta didik kelas X diberikan kelonggaran untuk menggunakan telepon genggam berbasis Android selama proses pembelajaran berlangsung. Kebijakan ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam mengakses materi, media pembelajaran, serta bahan ajar yang telah disediakan di dalam aplikasi. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk adaptasi sekolah terhadap perkembangan teknologi digital dalam dunia pendidikan.

Pembelajaran di SMAN 1 Petak Malai

Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik tampak sangat antusias mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat dari keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, serta berinteraksi dengan materi yang disajikan melalui aplikasi. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan lebih interaktif dan partisipatif, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan.

Namun demikian, di balik keberhasilan tersebut, masih terdapat sejumlah kendala yang menjadi tantangan dalam pelaksanaannya. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan akses internet. Meskipun sekolah telah memiliki satu perangkat layanan internet berbasis satelit Starlink, penggunaan secara bersamaan oleh banyak pengguna menyebabkan kecepatan akses menurun. Selain itu, ruang kelas X yang berada di bagian paling ujung sekolah juga kurang terjangkau sinyal, meskipun telah diupayakan penggunaan hotspot tambahan.

Pembelajaran berbasis hybrid di SMA

Kendala lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan sumber daya listrik. Sekolah sebenarnya telah mendapatkan bantuan dua unit power station berbasis panel surya. Namun, salah satu unit mengalami kendala pada sistem pengisian daya sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal. Akibatnya, hanya satu unit yang dapat digunakan secara normal dan harus berbagi dengan berbagai kebutuhan listrik lainnya di lingkungan sekolah.

Kondisi ini membuat implementasi pembelajaran berbasis hybrid belum dapat berjalan secara maksimal. Meskipun demikian, praktik yang telah dilakukan menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran jika didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Sebagai penutup, terdapat beberapa poin refleksi dari kegiatan observasi ini:

Pertama, inovasi pembelajaran berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan motivasi dan keaktifan peserta didik, sehingga layak untuk terus dikembangkan di masa mendatang.

Kedua, diperlukan dukungan infrastruktur yang lebih optimal, khususnya terkait akses internet dan ketersediaan listrik, agar pembelajaran berbasis hybrid dapat berjalan secara maksimal dan berkelanjutan.

Ketiga, hasil observasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi guru maupun pihak sekolah, dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kondisi di lapangan.

Keempat, kegiatan observasi kelas ini menjadi langkah awal yang positif dalam membangun budaya refleksi dan peningkatan kinerja guru secara berkelanjutan di SMAN 1 Petak Malai.

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen untuk terus berinovasi, SMAN 1 Petak Malai optimis dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, meskipun berada di tengah berbagai keterbatasan.

Komentar