HASUPA (15): Belajar Berhitung dengan Biji Ek di Bawah Rindangnya Pohon

SMAN 1 Petak Malai - Sabtu, 21 Februari 2026, kegiatan HASUPA (Harmoni Aksi Siswa Peduli Aksara) kembali digelar di tempat yang sama, yakni di samping base Taman Baca Baraoi. Menjelang pukul 15.00 waktu setempat, suasana mulai ramai. Beberapa anak tampak antusias berlari kecil menuju lokasi kegiatan. Sebuah lapak sederhana berupa terpal biru telah digelar di bawah pohon rindang, menjadi ruang belajar terbuka yang penuh keceriaan.

Literasi Hasupa di kalimantan tengah

Seperti beberapa minggu terakhir, kegiatan dibagi menjadi dua kelompok belajar. Dua terpal digelar berdampingan: satu untuk Kelas Bintang dan satu lagi untuk Kelas Mentari. Pembagian ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.

Kelas Bintang dipandu oleh Muhidah, guru bantu TK Pembina Desa Tumbang Baraoi yang secara sukarela menjadi relawan. Ia membimbing anak-anak yang masih dalam tahap awal membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Dengan pendekatan yang sabar dan penuh perhatian, Muhidah membantu anak-anak mengenal huruf, mengeja kata sederhana, serta memahami konsep dasar angka.

Sementara itu, Kelas Mentari dipandu oleh tiga siswi SMAN 1 Petak Malai yang menjadi relawan tetap HASUPA, yakni Kak Wulan, Kristi, dan Yulia. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi juga tumbuh di kalangan pelajar. Mereka tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga berbagi ilmu kepada adik-adik di lingkungan sekitar.

Kelas bintang literasi hasupa

Salah satu kegiatan yang paling menarik pada pertemuan kali ini adalah pembelajaran penjumlahan dan perkalian bilangan rendah menggunakan alat bantu biji ek. Kebetulan, di sekitar lokasi kegiatan terdapat beberapa pohon ek yang sedang berbuah. Buah atau biji ek tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai media belajar yang sederhana namun efektif.

Belajar berhitung menggunakan biji ek

Untuk penjumlahan, misalnya 8 + 7, anak-anak diminta mengambil 8 biji ek terlebih dahulu, kemudian menambahkan 7 biji lagi. Setelah itu, mereka menghitung jumlah keseluruhannya secara bersama-sama. Sedangkan untuk perkalian, misalnya 8 × 3, anak-anak diminta mengambil 3 biji ek sebanyak delapan kali, lalu menjumlahkan seluruhnya. Dengan cara ini, mereka dapat memahami bahwa perkalian merupakan penjumlahan berulang.

Metode belajar menggunakan benda konkret seperti biji ek membuat anak-anak lebih mudah memahami konsep matematika. Mereka tidak sekadar menghafal angka, tetapi benar-benar melihat dan merasakan proses berhitung tersebut. Suasana belajar pun terasa lebih menyenangkan karena dilakukan di alam terbuka dengan media yang tersedia di sekitar mereka.

Pembelajaran menggunakan media biji ek

Melalui pengulangan yang rutin setiap pekan, diharapkan anak-anak semakin terbiasa dan mampu mengingat hasil penjumlahan maupun perkalian tanpa harus menghafal secara khusus. Pembelajaran kontekstual seperti ini membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah hambatan untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna.

Kegiatan HASUPA hari itu ditutup dengan edukasi literasi finansial sederhana serta sesi foto bersama. Anak-anak pulang dengan wajah ceria, membawa pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.

HASUPA bukan sekadar kegiatan membaca dan berhitung, tetapi juga ruang bertumbuhnya kepedulian, kolaborasi, dan semangat berbagi. Dari terpal biru sederhana di bawah pohon rindang, harapan akan generasi yang cinta literasi terus ditumbuhkan.


Komentar