HASUPA (21) : Belajar Membaca, Berhitung, dan Mengenal Alam Sekitar

Tumbang Baraoi, 29 Agustus 2026 — Kegiatan Literasi HASUPA kembali digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB di lokasi kegiatan Taman Baca Baraoi, Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan.

Aktivitas Literasi HASUPA Eksplorasi Buah Hutan

Kegiatan kali ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya HASUPA mulai menjalankan tema dan konsep baru yang sedang dikembangkan. Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak diarahkan pada aktivitas membaca dan pendampingan belajar, ke depan HASUPA dirancang berkembang menjadi ruang belajar yang lebih luas, kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak-anak.

Ekplorasi Alam aktivitas HASUPA

HASUPA tidak hanya diharapkan menjadi tempat anak-anak membaca buku, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar dari lingkungan, belajar melalui pengalaman, mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi, mengenal potensi lokal, serta membangun rasa ingin tahu dan keberanian untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Konsep baru tersebut sejalan dengan gagasan pengembangan HASUPA sebagai kegiatan pembelajaran nonformal yang tidak kaku. Buku tetap menjadi bagian penting, tetapi pengalaman langsung di lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan dari apa yang dibaca, tetapi juga belajar melalui apa yang mereka lihat, sentuh, lakukan, dan rasakan.

Perdana Menggabungkan Literasi, Numerasi, dan Eksplorasi Alam

Pada kegiatan perdana dengan konsep baru ini, peserta tetap mengikuti aktivitas membaca dan belajar matematika dasar. Namun, kegiatan kemudian diperluas melalui aktivitas eksplorasi alam di sekitar lokasi Taman Baca Baraoi.

Anak-anak diajak keluar dan mengenali berbagai potensi yang terdapat di lingkungan sekitar. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah memetik dan mengenal buah-buahan hutan yang tumbuh di sekitar lingkungan kegiatan.

Dalam eksplorasi kali ini, peserta mengenal dan memetik buah Lampesu (Baccaurea lanceolata) serta salak hutan. Anak-anak tidak sekadar diberi tahu nama buah, tetapi diajak melihat secara langsung bentuk tanamannya, mencari buahnya, memetik, mengenal karakteristiknya, dan kemudian menikmati hasil yang mereka peroleh.

Pengalaman sederhana tersebut sebenarnya menyimpan banyak kesempatan belajar.

Ketika anak mencari buah di lingkungan sekitar, mereka belajar mengamati. Ketika mengenali bentuk dan karakter buah, mereka belajar mengidentifikasi. Ketika menghitung jumlah buah yang diperoleh, mereka dapat belajar numerasi. Ketika bertanya tentang nama, rasa, tempat tumbuh, dan manfaat buah, mereka sedang membangun kemampuan literasi dan berpikir kritis.

Belajar dari Rasa dan Kearifan Lokal

Kegiatan kemudian menjadi lebih menarik ketika anak-anak diajak menikmati buah yang telah dipetik bersama.

Buah Lampesu memiliki rasa yang cukup asam. Dalam kebiasaan masyarakat setempat, buah dengan rasa seperti ini dapat dinikmati dengan cara dipencok, yaitu menggunakan tambahan sederhana seperti garam dan cabai.

Peserta kemudian tidak hanya menikmati pencok yang sudah jadi. Mereka diperkenalkan dan diajak membuat sendiri sambal pencok sederhana sebagai pendamping buah.

Aktivitas tersebut memberikan pengalaman belajar yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar mengenal bahan, mencampurkan bahan, mengikuti tahapan sederhana, merasakan hasilnya, dan bekerja bersama.

Lebih dari sekadar kegiatan membuat makanan, aktivitas ini juga menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kearifan lokal dan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan.

Apa yang tumbuh di sekitar rumah dan desa dapat menjadi sumber pembelajaran. Buah hutan yang selama ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa ternyata dapat menjadi bahan untuk belajar tentang alam, budaya, pangan lokal, keterampilan, bahkan numerasi dan literasi.

HASUPA dan Arah Pembelajaran ke Depan

Kegiatan 29 Agustus menjadi langkah awal dari arah baru HASUPA. Konsep ini akan dikembangkan secara bertahap sehingga kegiatan tidak berhenti pada membaca buku dan belajar akademik dasar.

Ke depan, kegiatan HASUPA diharapkan dapat memiliki beberapa ruang belajar yang saling melengkapi, antara lain literasi membaca, numerasi dasar, eksplorasi alam, pengenalan lingkungan dan budaya lokal, keterampilan praktis, kreativitas, permainan edukatif, serta kegiatan berbasis proyek sederhana.

Lingkungan Desa Tumbang Baraoi sendiri dapat menjadi laboratorium belajar yang sangat berharga. Hutan, sungai, tumbuhan, buah-buahan lokal, kehidupan masyarakat, pekerjaan warga, tradisi, dan berbagai persoalan yang ditemui sehari-hari dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran.

Dengan pendekatan seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar “apa yang ada di dalam buku”, tetapi juga belajar memahami “apa yang ada di sekitar mereka.”

Inilah salah satu semangat baru HASUPA: membawa pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan anak dan menjadikan lingkungan sebagai bagian dari ruang belajar.

Kegiatan tersebut juga memiliki manfaat penting dalam membangun karakter. Anak-anak belajar bekerja sama, berkomunikasi, mengikuti arahan, menjaga lingkungan, berani mencoba, serta menghargai pengetahuan dan sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Kegiatan Sederhana, Makna yang Besar

HASUPA 29 Agustus 2026 memang berlangsung secara sederhana. Tidak ada relawan dari kalangan siswa SMA pada kesempatan kali ini. Kegiatan didampingi oleh relawan dari masyarakat dan secara langsung ditemani oleh Muhammad Jumani, Kepala SMAN 1 Petak Malai.

Namun, kesederhanaan tersebut justru menjadi bagian dari proses pengembangan HASUPA.

Sebuah konsep baru tidak harus langsung berjalan sempurna. Ia perlu dicoba, diamati, dievaluasi, kemudian diperbaiki. Dari kegiatan sederhana seperti membaca, berhitung, memetik buah, mengenal tanaman, hingga membuat pencok bersama, HASUPA mulai menemukan bentuk pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan dunia anak.

Ke depan, kegiatan-kegiatan tersebut akan terus dikembangkan agar HASUPA bukan hanya menjadi tempat berkumpul dan membaca, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak Desa Tumbang Baraoi untuk belajar, bereksplorasi, berkarya, dan mengenal potensi lingkungan mereka sendiri.

Sebab, pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas.

Kadang-kadang, sebuah pelajaran terbaik justru dimulai dari sebatang pohon, sebuah buah yang dipetik bersama, rasa asam yang membuat anak penasaran, dan pengalaman sederhana yang kemudian menjadi cerita serta pengetahuan.





Komentar