Cerita Kami di Research Club: Belajar Merakit Alat Pengukur Kualitas Udara Sendiri di Desa Tumbang Baraoi

Halo semuanya! Perkenalkan, kami dari Research Club SMAN 1 Petak Malai.

Jujur aja, kami ini tim yang baru banget terbentuk. Pengetahuan kami soal ilmu pengetahuan, komputer, atau pemrograman masih jauh banget kalau dibandingin sama teman-teman yang sekolah di kota besar. Pegang komputer aja kami masih kaku dan belajarnya pelan-pelan. Tapi dari Desa Tumbang Baraoi ini, kami punya semangat dan rasa penasaran yang besar buat belajar dan paham sama kondisi di sekitar kami.

Alat pengukur kualitas udara rakitan PMS 5003 dan ESP32
Alat pengukur kualitas udara  menggunakan sensor PM5003 dan ESP32

Awal Cerita: Penasaran Sama Asap yang Makin Pekat

Semua ini bermula dari kondisi udara di desa dan sekolah kita yang makin hari makin tertutup kabut asap tebal. Karena di Kecamatan Petak Malai nggak ada stasiun resmi Pengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kami bingung mau melihat data resminya di mana.

Awalnya, kami coba cari tahu lewat aplikasi cuaca di HP. Tapi lama-kelamaan kami curiga, kenapa asap di luar makin pekat dan bikin dada sesak, tapi status di aplikasi HP cuma tertulis "Tidak Sehat" atau "Sangat Tidak Sehat"? Kami menduga data aplikasi itu kurang akurat untuk wilayah pedalaman kita karena tidak ada sensor fisiknya di sini.

Dari rasa penasaran itu, kami menghadap ke guru pendamping dan Kepala Sekolah. Kami bilang, "Pak, bisa nggak ya kita ukur kualitas udara kita sendiri?"

Dari Bingung Sampai Bisa Merakit Alat Sendiri

Niat awalnya kami mau membeli alat pengukur udara yang sudah jadi. Tapi pas dicek harganya, ternyata mahal banget dan dana kita terbatas.

Nggak hilang akal, Bapak Kepala Sekolah dan guru pendamping ngajakin kami berdiskusi dan searching di internet. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), akhirnya ketemu jalan keluarnya! Kita bisa bikin alat sendiri yang jauh lebih murah menggunakan sensor PM5003 (buat mendeteksi debu dan asap) serta modul mikrokontroler ESP32.

Proses pembuatannya penuh tantangan buat kami:

  1. Perakitan Fisik: Dibantu guru pendamping, kami merangkai kabel dan komponen sensor ESP32 pelan-pelan.

  2. Pemrograman (Coding): Karena kami di Research Club belum paham bahasa pemrograman dan cara pakai aplikasi Arduino IDE, Bapak Kepsek yang turun tangan membantu proses setting dan mengunggah kode programnya ke alat kami.

  3. Pengujian: Setelah semua siap, alat sederhana buatan kami ini akhirnya bisa diuji coba pertama kali pada hari Senin.

Melihat cara seting PM5003 di Arduino
Momen kami memperhatikan dan belajar saat Pak Kepsek menyetting kode program di komputer.

Hasil Pengukuran dan Dampaknya Buat Sekolah & Desa

Pas alat dinyalakan dan mulai membaca udara di lingkungan SMAN 1 Petak Malai, kami semua kaget melihat angkanya. Kualitas udara di desa kita ternyata sudah menyentuh Level Berbahaya jauh lebih parah dari yang ditampilkan aplikasi HP!

Berkat data mandiri ini:

  • Dasar Kebijakan Sekolah: Bapak Kepala Sekolah punya bukti data yang kuat dan akurat untuk mengambil tindakan cepat, yaitu meliburkan tatap muka dan menjalankan sistem Belajar dari Rumah (BDR) demi kesehatan seluruh siswa.

  • Bisa Diakses Publik secara Real-Time: Nggak cuma disimpan sendiri, atas bantuan guru pendamping dan Kepsek, alat ini dihubungkan ke internet dan datanya diintegrasikan langsung ke blog sekolah secara real-time. Jadi, masyarakat Desa Tumbang Baraoi dan siapapun yang butuh referensi data kualitas udara bisa mengeceknya kapan saja secara gratis.

Sensor Kualitas Udara Real Time Petak Malai
Data kualitas udara dari alat rakitan sudah bisa tampil di blog sekolah secara live.

Pantau Kualitas Udara Real-Time SMAN 1 Petak Malai

Buat teman-teman, orang tua, maupun warga Desa Tumbang Baraoi yang ingin memantau kondisi kualitas udara di lingkungan sekolah kita secara live, silakan cek melalui tautan di bawah ini:

👉 DATA KUALITAS UDARA REAL-TIME SMAN 1 PETAK MALAI

Semangat Pembelajar dari Pedalaman

Kami berenam Deri Repandi, Amansyur, Marzelino, Ipan, Regito, dan Noperlin memang masih sangat awam. Kami belum jago koding dan masih harus banyak bimbingan. Tapi lewat pengalaman ini, kami belajar bahwa keterbatasan fasilitas di pedalaman bukan alasan buat berhenti belajar.

Semoga langkah kecil dari Research Club SMAN 1 Petak Malai ini bisa membuktikan kalau anak desa juga bisa berkontribusi dan memberi manfaat nyata buat sekolah dan warga sekitar! 

Belajar di Desa, Berkarya Untuk Dunia.

Komentar